
Nggruthu.com - Istilah Ghosob berasal dari fiil madly yaitu kata ghoshoba, yaghshibu, ghoshbun yang artinya merampas, mengambil dengan paksa/kekerasan (Kamus At-Taufiq, 2004, 455).
Kebiasaan ghosob ini sering dilakukan oleh para santri, meskipun makna ghosob berkaitan dengan kata kekerasan serta rampasan yang terkesan anarkis, akan tetapi dalam prakteknya tidaklah seperti yang di bayangkan. Karena biasanya para santri melakukan hal terebut, berupa ghosob ringan yaitu mengambil atau memakai sandal santri lain tanpa meminta izin terlebih dahulu kepada pemiliknya, sandal merupakan barang terlaris yang menjadi sasaran praktek ghosob para santri.
Imbasnya sandal santripun akan susah di deteksi atau lebih parah lagi tidak akan kembali , tidak kembalinya bukanlah hilang akan tetapi keberadaan bisa jadi berada di tempat lain, namun kadang kala sandal yang telah lama hilang, ada kemungkinan kembali lagi, jika masih beruntung sandal tersebut masih utuh dengan pasangannya, akan tetapi kadang sandal yang telah di ghosob sering kali kembali sudah menjadi sandal selen atau sandal kanan dan kiri tidaklah pasangan sesungguhnya.
Di dunia santri, ada keyakinan untuk "ngalap berkah" atau mencari berkah. Cium tangan guru dan kiai adalah salah satu yang populer. Ini termasuk silaturahmi, atau "sowan" ke "ndalem" kiai. Ada pula, mencari berkah kiai dengan cara yang nyentrik, unik, sekaligus konyol. Begini kisahnya.
Alkisah, suatu hari, mendekati Pemilu 1999, Gus Dur melakukan safari, atau dalam istilah santri, sowan ke kiai-kiai khos. Tersebutlah, kiai karismatik Majenang, Kabupaten Cilacap, KH Najmudin, pengasuh Pondok Pesantren El Bayan. KH Najmudin atau panggilan akrabnya, Mbah Naj, memiliki ratusan santri baik putra maupun putri.
Singkat cerita, tibalah rombongan Gus Dur di rumah Mbah Naj. Lantas, layaknya tamu, mereka pun dijamu dan berbincang santai dengan seluruh anggota rombongan. Perihal maksud dan tujuan Gus Dur sowan kepada Mbah Naj, seperti kebiasaan para kiai, hanya diketahui oleh dua ulama besar ini, empat mata.
Usai sowan, rombongan Gus Dur kala itu hendak salat berjemaah di masjid pesantren yang letaknya berhadapan dengan rumah Mbah Naj. Celaka, sandal Gus Dur tinggal satu. Pasangannya, hilang. Pengikut Gus Dur, santri, dan pengurus pondok pun mencari ke berbagai penjuru. Namun, satu sandal itu tak ditemukan.
Maka dengan kerelaan hati, Gus Dur meminjam sandal yang tersedia di halaman. Ia paham, tabiat santri yang suka meminjam tanpa bilang-bilang (gasab).
"Gus Dur sangat paham dengan dunia santri. Beliau meyakini, bahwa santri yang mengambil itu tak berniat mencuri. Si santri hanya ingin karomah Gus Dur," tutur Lurah Pondok El Bayan Majenang.
Dengan kerelaan hati pula, Gus Dur, ketika berpamitan, meninggalkan satu sandalnya yang tertinggal. Oleh karena itu, si santri pun gembira bukan kepalang karena ia memperoleh sepasang sandal Gus Dur.
Tapi tidak semua santri lho.....